Home » » Pajajaran Bukan Kerajaan, Prof. Nina Herlina Lubis

Pajajaran Bukan Kerajaan, Prof. Nina Herlina Lubis

Property Pribadi Suriya-Aeh Info-Anak-MeulabohDoc. Pribadi Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Pajajaran Bukan Kerajaan, Prof. Nina Herlina Lubis
Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Pajajaran Bukan Kerajaan, Prof. Nina Herlina Lubis - Seperti daerah lainnya di Indonesia, Jawa Barat dahulu kala memiliki kerajaan. Namun, masih ada yang belum mengetahui seluk-beluk tentang Kerajaan Sunda. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof Nina Herlina Lubis mengatakan, ada 4 fakta di balik Kerajaan Sunda, berdasarkan sumber primer yang digunakan peneliti. Berikut 4 fakta tentang Kerajaan Sunda:

1. Punya dua kerajaan besar Jawa Barat setidaknya memiliki dua kerajaan besar yang pernah berdiri setelah zaman Tarumanagara, yaitu Galuh dan Sunda. Dua kerajaan ini memiliki akar kuat sebagai identitas sejarah dan budaya dari masyarakat Sunda.

Berbicara mengenai Kerajaan Sunda, maka tidak bisa dipisahkan dari nama Kerajaan Galuh. Sebab, antara Kerajaan Sunda dan Galuh pernah bersatu dengan nama Kerajaan Sunda, dan pusat kekuasaannya berada di wilayah Galuh.

Nina menjelaskan, penyatuan Kerajaan Sunda dan Galuh terjadi pada masa Sanjaya, Raja Sunda setelah Maharaja Trarusbawa.

“Dalam sumber primer Prasasti Canggal disebutkan, Sanjaya merebut takhta Kerajaan Galuh dari Rahyang Purbasora sekitar sebelum tahun 732 Masehi,” ujar Nina dalam keterangan tertulis, Senin (15/3/2021).

2. Berbeda dengan kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur Sejarawan Unpad ini menjelaskan, berdasarkan peninggalan sejarah, ibukota atau pusat kekuasaan Kerajaan Galuh berpindah-pindah. Bermula di daerah di dekat Banjar saat ini, lalu berpindah wilayah yang saat ini menjadi perbatasan Ciamis-Banjar, serta kembali pindah ke daerah Kawali.

Property Pribadi Suriya-Aeh Info-Anak-MeulabohDoc. Pribadi Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Pajajaran Bukan Kerajaan, Prof. Nina Herlina Lubis
“Di Kawali itu lah kita menemukan sumber yang bisa dipercaya tentang Galuh, yaitu 6 prasasti yang menyebutkan berbagai peristiwa tentang Kerajaan Galuh,” kata Nina.

Memiliki ibukota kerajaan yang berpindah menyebabkan adanya perbedaan karakteristik kerajaan di Sunda dengan kerajaan di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Kerajaan Sunda cenderung memiliki tinggalan sejarah berupa bangunan candi yang lebih sedikit dibanding di wilayah tengah dan timur. Ini disebabkan masyarakat Sunda bukan sebagai masyarakat menetap. Karena itu, ibukota Kerajaan Galuh dan Sunda berpindah-pindah.

“Karena berpindah-pindah, jadi tidak punya waktu membangun candi besar. Di Jateng dan Jatim masyarakatnya petani sawah, sehingga cukup punya waktu membangun bangunan monumental,” tutur Nina.

3. Pajajaran bukan nama kerajaan Kerajaan Sunda yang paling dikenal masyarakat Sunda adalah Pajajaran. Namun, Pajajaran bukan nama sebuah kerajaan. Sebab, nama kerajaan yang sebenarnya adalah Kerajaan Sunda.

Nina menjelaskan, Pajajaran adalah ibukota atau pusat kekuasaan Kerajaan Sunda selama masa Sri Baduga Maharaja, atau Prabu Siliwangi, yaitu Pakwan Padjajaran. Pakwan Pajajaran terletak di wilayah Kota Bogor saat ini.

“Ada teori yang dikemukakan Robert von Heine-Geldern, kerajaan di Asia Tenggara umumnya disebut dengan nama ibukotanya,” kata dia.

Dalam kepercayaan masyarakat, ibukota kerajaan diyakini sebagai pusat mikrokosmos. Cukup dengan menyebut nama mikrokosmos, berarti sudah menyebut seluruh wilayah kerajaan.

“Itu sebabnya yang beken sekarang itu Pajajaran. Padahal yang betul Kerajaan Sunda. Itu kita harus berpegang pada sumber primer,” ujar Nina.

Sumber primer diyakini para ahli sebagai bukti autentik yang bisa menjadi referensi suatu sejarah. Hal ini juga bisa menjadi rujukan dari beragam perdebatan yang muncul dari proses interpretasi sejarah.

4. Kepercayaan Prabu Siliwangi Kerajaan Sunda sendiri tidak lepas dari adanya perdebatan. Salah satunya mengenai kepercayaan Prabu Siliwangi. Nina menjelaskan, kepercayaan Sri Baduga Maharaja termaktub dalam Prasasti Batu Tulis yang didirikan Prabu Surawisesa, 12 tahun setelah kematian Sri Baduga Maharaja.

Dalam prasasti itu jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja, Ayah dari Prabu Surawisesa, meninggal pada 1521. Jenazahnya kemudian diperabukan.

“Kenapa diperabukan, karena dia beragama Hindu,” tutur Nina. Berbekal informasi dari sumber primer, jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja meninggal dalam keadaan beragama Hindu.

Meskipun ada bukti sekunder yang menerangkan bahwa Prabu Siliwangi beragama Islam. Menjelang akhir usianya, mulai banyak pendatang yang menetap di Tatar Sunda. Para pendatang tidak hanya beragama Hindu, tetapi ada pula yang beragama Buddha dan Islam.

Nina memaparkan, beragamnya kebudayaan dan agama di Tatar Sunda membuktikan bahwa Kerajaan Sunda memiliki toleransi yang tinggi. Bahkan, penyebaran Islam di Tatar Sunda sudah berlangsung sejak abad ke-14.


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News Konfrontasi]

0 Responses to komentar:

Post a Comment

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Peraturan Berkomentar
[1]. Dilarang menghina, Promosi (Iklan), Menyelipkan Link Aktif, dsb
[2]. Dilarang Berkomentar berbau Porno, Spam, Sara, Politik, Provokasi,
[3]. Berkomentarlah yang Sopan, Bijak, dan Sesuai Artikel, (Dilarang OOT)
[3]. Bagi Pengunjung yang mau tanya, Sebelum bertanya, Silakan cari dulu di Kotak Pencarian

“_Terima Kasih_”